LANDASAN FILOSOFIS


Para ahli mencatat, bahwa konsep tentang kurikulum mulai berkembang sejak dipublikasikannya buku The Curriculum yang ditulis oleh Franklin Bobbit pada tahun 1918 (Saylor, Alexander, and Lewis, 1981). Kurikulum merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan pembelajaran. Rencana itu ada kalanya hanya dirumuskan dalam bentuk berbagai mata pelajaran yang ditawarkan, rincian isi setiap mata pelajaran, tujuan yang hendak dicapai, atau dirumuskan secara lengkap berbagai segi yang berkaitan dengan pengalaman belajar.

Secara harfiah filosofis (filsafat) berarti “cinta akan kebijakan” (love of wisdom). Dalam akademik filsafat berarti upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.

Ada tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisika (yang membahas segala yang ada dalam ala mini), epistemology (yang membahas kebenaran), dan aksiologi (yang membahas nilai).

Aliran filsafat dengan dasar pemikiran tersendiri, yaitu:

1.      Aliran perennialisme; Aliran ini bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui pengetahuan yang “abadi, universal dan absolute” atau “perennial” yang ditemukan dan diciptakan para pemikir unggul sepanjang masa, yang dihimpun dalam “the Great Books” atau “Buku Agung”.

2.      Aliran idealisme; Filsafat ini berpendapat bahwa kebenaran itu berasal dari “atas”, dari dunia supra-natural dari Tuhan. Boleh dikatakan hamper semua agama menganut filsafat idealisme. Kebenaran dipercayai datangnya dari Tuhan yang diterima melalui wahyu. Kebenaran ini, termasuk dogma dan norma-normanya berdifat mutlak. Apa yang datang dari Tuhan baik dan benar. Tujuan hidup ialah memenuhi kehendak Tuhan.

3.      Aliran Realisme; Filseafat realiseme mencari kebenaran di dunia ini sendiri. Melalui pengamatan dan penelitian ilmiah dapat ditemukan hokum-hukum alam. Mutu kehidupan senantiasa dapat ditingkatkan melalui kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan hidup ialah memperbaiki melalui penelitian ilmiah.

4.      Aliran Pragmatisme; Aliran ini juga disebut aliran instrumentalisme atau utilitarianisme dan berpendapat bahwa kebenaran adalah buatan mnusia berdasarkan pengalamannya. Tidak ada kebenaran mutlak, kebenaran adalah tentative dan dapat berubah. Yang baik ialah yang berakibat baik bagi masyarakat. Tujuan hidup ialah mengabdi kepada masyarakat dengan peningkatan kesejahteraan manusia.

5.      Aliran Eksistensialisme; Filsafat ini mengutamakan individu sebagai factor dalam menentukan apa yang baik dan benar. Norma-norma hidup berbeda secara individual dan ditentukan masing-masing secara bebas, namun dengan pertimbangan jangan menyinggung perasaan orang lain. Tujuan hidup adalah menyempurnakan diri merealisasikan diri.

Dasar-dasar filsafat Dewey

Filsafat Dewey lebih berkenaan dengan epistemology dan tekanannya kepada proses berpikir. Proses berpikir merupakan satu dengan pemecahan yang bersifat tentative, antara ide dengan fakta, antara hipotesis dengan hasil. Proses berpikir merupakan proses pengecekan dengan kejadian-kejadian nyata. Dalam filsafat Dewey kebenaran itu terletak dalam perbuatan atau truth is in the making, yaitu adanya persesuaian antara hipotesis dengan kenyataan.

Dewey sangat menghargai pernanan pengalaman, merupakan dasar bagi pengetahuan dan kebijakan. Experience is the only basis for knowledge and wisdom (Dewey, 1964, hlm. 101).

Teori pendidikan Dewey

John Dewey menegaskan bahwa pendidikan itu tidak mempunyai tujuan, hanya orang tua, guru, dan masyarakat yang mempunyai tujuan. And it is well to remind ourselves that education as such has no aims. Only persons, parents, and teacher etc., have aims, not an abstract idea like education. (John Dewey, 1964, hlm. 177).

Belajar dari pengalaman adalah bagaimana menghubungkan pengalaman kita dengan pengalaman masa lalu dan yang akan datang. Belajar dari pengalaman berarti mempergunakan daya pikir reflektif (reflective thinking), dalam pengalaman kita. Pengalaman yang efektif adalah pengalaman reflektif. Ada lima langkah berpikir reflektif menurut John Dewey, yaitu:

1.      Merasakan adanya keraguan kebingungan yang menimbulkan masalah,
2.      Mengadakan interpretasi tentatif (merumuskan hipotesis),
3.      Mengadakan penelitian atau pengumpulan data yang cermat,
4.      Memperoleh hasil dari pengujian hipotesis tentatif,
5.      Hasil pembuktian sebagai sesuatu yang dijadikan dasar untuk berbuat.

Dalam penyusunan bahan ajaran menurut Dewey hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

1.      Bahan ajaran hendaknya konkret, dipilih yang betul-betul berguna dan dibutuhkan, dipersiapkan secara sistematis dan mendetil.
2.      Pengetahuan yang telah diperoleh sebagai hasil belajar, hendaknya ditempatkan dalam kedudukan yang berarti, yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan baru, dan kegiatan yang lebih menyeluruh.

Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. (2005). Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Offset.
Nasution, S. (2008). Asas-asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sagala, Syaiful. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
Internet. Google: Search Engine. Diakses Tahun 2011.

Posted in Artilkel Umum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s